5 Cara Mendidik Anak Agar Menjadi Pribadi Yang Bertanggung jawab

5 Cara Mendidik Anak Agar Menjadi Pribadi Yang Bertanggung jawab

Bagi setiap pasangan, kehadiran seorang anak pastilah akan sangat dinantikan. Anak, selain merupakan penerus generasi keluarga, anak juga merupakan sumber kebahagiaan dan kebanggaan bagi orang tuanya. Secara sosial psikologis anak menjadi bukti bahwa pasangan suami istri mampu melakukan tugas reproduksinya sehingga tidak akan ada yang menuding mereka atau salah satunya sebagai orang yang mandul. Tetapi yang sangat memprihatinkan saat ini ialah masih ada beberapa orang tua yang kurang menyadari bahwa merekalah yang seharusnya mengajarkan dan menunjukkan hal-hal yang baik dan tidak baik kepada anak-anaknya sedini mungkin agar mereka kelak menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan, menjadi berguna untuk diri mereka sendiri ataupun orang lain.

Di media sosial akhir-akhir ini sedang hangat dibicarakan tentang remaja yang menjadi selegram di Youtube, sayangnya bukan karena prestasinya tapi karena kelakuan minusnya yang dengan bangga mereka tunjukkan kepada publik. Hal yang seharusnya membuat mereka malu tapi malah dibanggakan. Tentu anda mengenal Awkarin kan? Memang tidak akan pernah ada orang tua yang sempurna tetapi kita bisa menjadi orang tua terbaik yang mampu mendidik anak-anak dengan baik, menjadikan mereka manusia yang beradab. Memang tidak semudah teorinya, tetapi selama mau belajar mendidik anak dengan baik bukanlah hal yang terlalu sulit. Anda bisa lakukan dengan cara berikut,

  1. Ajari Anak Tentang Tanggung Jawab Sedini Mungkin


Ketika anak berusia 3 – 6 tahun ( masa early childhood ) anak sudah bisa diajarkan untuk melakukan hal-hal yang bersifat tugas seperti membereskan mainannya sendiri kemudian menyimpannya di tempat biasa. Biarkan dia belajar bertanggung jawab terhadap mainannya dan tugas orang tua ialah mengawasinya. Tapi sesuaikan dengan tahapan umur dan kemampuan mereka jangan memaksakan memberikan tugas yang masih belum bisa mereka kerjakan.

[caption id="attachment_2207" align="aligncenter" width="640"]Cara mendidik anak bertanggung jawab Cara mendidik anak bertanggung jawab (Ilustrasi/pixabay)[/caption]

Sesekali berikan mereka hadiah ( reward ) jika mereka mampu mengerjakan tugasnya dengan baik dan berikan hukuman (punishment) ketika mereka curang atas tugasnya tetapi hukuman yang bersifat mendidik seperti mereka harus mengambilkan peralatan makan untuk semua penghuni rumah selama 3 hari. Hal ini akan membuat mereka belajar bahwa ketika mereka melakukan kesalahan maka ada konsekuensi yang harus ditanggung.

  1. Dengarkan Keluhan Mereka


Yang sering kita abaikan ialah kenyataan bahwa anak juga manusia yang memiliki perasaan seperti orang tuanya atau orang dewasa pada umumnya. Mereka juga memiliki keinginan, memiliki masalah dalam skala mereka.

Jadilah sahabat yang baik untuk mereka yang siap mendengarkan semua permasalahan yang mereka miliki. Mendengarkan bukan menghakimi apalagi menyalahkan.

Buat mereka nyaman untuk menceritakan hal apapun yang mereka alami agar kita tahu apa yang bisa menjadi solusi tepat untuk masalah tersebut. Beritahu pada mereka dan biarkan mereka menyelesaikan permasalahannya sendiri, tentu dalam pengawasan kita sebagai orang tua. Terutama bagi orang tua yang memiliki anak dalam masa remaja dan puber, masa pencarian jati diri bagi mereka dimana anak mulai mengambil jarak dengan keluarganya, lebih suka sendiri atau lebih percaya dengan teman sepermainannya, maka orang tua harus lebih PDKT agar mereka tidak terlepas dari jangkauan pengawasan yang bisa mengakibatkan salah gaul seperti remaja selegram tersebut. Atau melakukan hal-hal negatif lainnya.

  1. Jangan Memberikan Aspirasi Atau Ekspektasi Yang Terlalu Tinggi


Memang wajar jika kita sebagai orang tua menginginkan anak–anak mendapatkan atau mencapai sesuatu yang terbaik. Tapi terbaik ukuran orang tua belum tentu sama dengan mereka karena kemampuan tiap anak berbeda.

Jika pandai matematika dijadikan sebagai ukuran anak pandai berarti anak yang pandai melukis atau bermain musik merupakan anak yang bodoh. Dan ini merupakan kesalahan yang fatal bagi orang tua.

Yang pertama kali harus dilakukan ialah kenali bakat dan minat anak, apa yang menjadi kesukaannya dan membuatnya nyaman. Jika positif, dukunglah mereka. Jika ada yang kurang baik, arahkan dan beri pengertian pada mereka. Jangan memaksa anak otak kanan untuk pandai matematika atau mereka justru akan menjadi pribadi yang mudah stres karena harapan yang sulit untuk mereka penuhi. Yang seharusnya dilakukan, ajarkan pada mereka bahwa mereka bisa menjalani apapun hal positif yang mereka sukai dan kalau bisa raih prestasi dari hal tersebut.

  1. Jadilah Teladan Bagi Mereka, Berilah Contoh, Bukan Hanya Perintah


Kebiasaan orang tua yang umum terjadi ialah selalu memerintah pada anaknya. Kamu harus begini, lakukan hal itu dan lain-lain tanpa memberikan contoh. Mungkin kita lupa bahwa ketika lahir, anak ibarat kertas putih (teori tabularasa) dan kita sebagai orang tualah yang akan menuliskan sesuatu diatas kertas tersebut. Tidak salah jika ada idiom, anak merupakan representasi dari orang tuanya. Orang tua seperti apa akan menghasilkan anak seperti apa. Bagaimana cara yang tepat? Ajak mereka bersama-sama melakukannya seperti beribadah atau sekedar membereskan baju mereka sendiri. Jika dilakukan secara terus-menerus, maka hal tersebut akan menjadi kebiasaan bagi mereka dan secara otomatis mereka akan melakukannya sendiri tanpa harus selalu diperintah. Mungkin hanya perlu sesekali untuk diingatkan.

  1. Jangan Gengsi Minta Maaf Pada Anak


Siapa bilang orang tua selalu benar dan anak pasti salah. Ini tidak benar. Namanya manusia, sesekali pasti juga melakukan kesalahan dan ketika kita sebagai orang tua melakukannya, jangan segan untuk minta maaf terlebih dahulu. Agar mereka juga belajar bahwa kewajiban orang yang bersalah ialah minta maaf bukan menyalahkan orang atau hal lain.

Hal konyol yang sering dilakukan orang tua ialah secara tidak sengaja mengajarkan pada anak bahwa dia boleh menyalahkan hal lain ketika hal tidak baik terjadi padanya karena kesalahannya sendiri seperti ketika anak jatuh maka orang tua akan bilang bahwa batu atau tanahnya yang nakal. Jangan juga biasakan bahwa kakak atau anak yang lebih tua selalu salah dan adiknya selalu benar atau anda akan mendapatkan anak egois yang hanya bisa menyalahkan orang lain dan tidak mau belajar bertanggung jawab.
Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar