6 Cara Agar Do’a Senantiasa Terkabul

6 Cara Agar Do’a Senantiasa Terkabul

Dalam aktivitas ibadah seorang muslim, pastinya tidak akan lengkap jika tidak ada permohonan doa dari seorang hamba kepada Tuhannya. Doa dan ta’awudz ibarat sebagai sebuah senjata. Kehebatan senjata pasti akan bergantung kepada si pemakainya, senjata itu sendiri, dan tidak adanya penghalang. Jikalau ketiga hal tersebut sudah dimiliki, pasti senjata tersebut mampu mengalahkan musuh. Demikian juga dengan do’a seorang hamba, apabila doa tersebut tidak baik, tidak padunya antara hati dan lisan manusia, serta adanya penghalang bagi doa tersebut, tentunya doa tidak akan dikabulkan oleh Tuhan.

Untuk mencegah hal di atas, maka perlunya sebuah cara atau syarat-syarat supaya doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT, diantaranya sebagai berikut.
1. Ikhlas

Ikhlas yaitu membersihkan hati kita dari segala macam perkara yang dapat menjadikannya tidak semata-mata karena Allah. Mengharapkan pahala dari Allah juga merupakan tujuan dari ikhlas itu sendiri, di samping rasa takut kepada azab-Nya serta mengharap keridhaan-Nya.

Dalam banyak tafsir hadist maupun Al-Qur’an dijelaskan bahwa ikhlas memiliki peranan penting dalam kehidupan seorang hamba, dengan ikhlas berarti ia telah memurnikan ketaatan kepada Allah dalam menjalankan ibadah, serta menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan mentauhidkan-Nya.

Firman Allah SWT dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”

Dari ayat di atas, dapat kita ambil kesimpulan, bahwa dengan ikhlas kita dapat melaksanakan ibadah-ibadah kepada Allah, serta berbuat baik kepada sesama manusia dengan maksimal tanpa adanya rasa khawatir dalam hati kita diterima atau tidaknya ibadah.
cara agar doa dikabulkan
cara agar doa dikabulkan (Ilustrasi/wikipedia)


2. Ittiba’ (mengikuti) Rasulullah SAW

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Kahfi ayat 110  yang artinya:
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah sesembahan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Ayat di atas telah menjelaskan kepada kita semuanya bahwa amal shalih ialah amalan yang dikerjakan semata-mata karena Allah SWT, dan harus sesuai pula dengan tuntunan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu syarat diterimanya seluruh ibadah.

Maka tidak diragukan lagi bahwa sebuah amal yang tidak sesuai dengan syariat Nabi Muhammad SAW ialah amalan yang bathil (tidak sah) walaupun itu dipandang baik oleh orang banyak, akan tetapi berbeda penilaiannya di mata Allah SWT, karena fungsi diutusnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi ini oleh Allah SWT ialah untuk ditaati dan diikuti apa yang beliau perintahkan dan lakukan. Sebagaimana al-Bukhari meriwayatkan hadist dari Aisyah r.a, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya,:
Barangsiapa yang membuat-buat ajaran baru dalam agama kami ini yang tidak bersumber darinya ,maka ajaran itu dtolak.”
Hadist ini, telah mengajarkan kepada seorang muslim, bahwa yang dimaksud dengan ajaran baru dalam agama ialah syariat, yang tentunya syariat tersebut tidak bersumber dari ajaran Rasulullah SAW.
3. Yakin dan percaya akan dikabulkan Allah

Allah SWT Maha Kuasa atas seluruh semesta alam ini, apabila Dia telah berkehendak atas sesuatu, Allah hanya berfirman, “Jadilah”, maka akan langsung terjadi. Sehubungan dengan syarat ketiga ini, maka sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk benar-benar yakin dan percaya bahwa doa yang senantiasa dipanjatkan siang dan malam akan dikabulkan oleh Allah SWT. Untuk menambah rasa percaya diri seorang muslim, maka ia harus mengetahui bahwa Allah SWT merupakan pemilik seluruh pintu kebaikan dan keberkatan.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “ Berdoalah kepada Allah, sedang kalian yakin akan terkabul..”

Perlu diketahui juga oleh seorang muslim, apabila Allah mengabulkan permohonan hambaNya baik itu dari bangsa jin atau manusia maka tidak akan berkurang sedikitpun kekuasaan dan kerajaan-Nya, karena Dialah pemilik alam semesta ini.
4. Menghadirkan hati dan khusyu’ dalam berdo’a serta takut kepada azab-Nya.

Merupakan sebuah keharusan bagi seorang muslim ketika berdoa hendaklah ia menghadirkan hatinya, serta merendahkan diri kepada Allah sewaktu berdoa dan berdzikir disertai rasa khusyu’ di dalamnya.
Allah SWT berfirman, yang artinya:
Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai.”

Dengan khusyu’, maka kita dapat menghayati setiap kata yang kita ucapkan terlebih lagi kita akan mampu menghayati dan merenungi seluruh ciptaan Allah SWT di alam semesta ini.
5. Keinginan kuat, serta kesungguhan dalam berdoa

Ketika kita berdoa kepada Allah SWT pastinya ada keinginan yang kuat supaya permohonan yang kita panjatkan kepada Allah bisa diterima. Oleh sebab itu Rasulullah SAW telah melarang umatnya untuk istitsna’ (mengecualikan dengan mengatakan jika Engkau menghendaki dalam setiap berdoa).
Rasulullah SAW bersabda,
Apabila salah seorang dari kalian berdoa, maka hendaklah ia memiliki keinginan yang kuat dalam berdoa, janganlah ia berdoa,’Ya Allah, jika Engkau kehendaki, berikanlah kepadaku, sesungguhnya Allah tidak ada yang dapat menuntut paksa terhadap-Nya,”
6. Menjauhi perbuatan dosa dan maksiat

Pada poin terakhir ini, sering disadari atau tidak oleh seorang muslim, jika dosa dan maksiat merupakan persoalan yang sangat berbahaya bagi keimanan hati. Sebab, ketika kita telah melakukan perbuatan dosa dan maksiat, hati ini akan tertutupi oleh noda-noda hitam, selanjutnya kita akan kesulitan untuk tetap beribadah dengan benar kepada Allah SWT, semakin jauh dari Allah, dan akan sangat sulit untuk terkabulnya doa kita.

Sebuah gambaran yang jelas bagi hamba yang melakukan perbuatan dosa dan maksiat ialah semakin gelapnya hati hamba ibarat malam yang gelap gulita, sedangkan ketaatan kepada Allah sendiri ibarat cahaya matahari yang senantiasa menyinari seluruh celah-celah alam semesta ini.
Oleh karena itu, sudah jauh-jauh hari Rasulullah SAW telah memperingatkan kepada umatnya untuk menjauhi perbuatan dosa.
Rasulullah SAW bersabda,
Seorang mukmin jika melakukan satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan setitik warna hitam. Jika ia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih . Jika ditambah dengan dosa lain, titik itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah noda yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itulah yang menutupi hati mereka.” (HR Tarmidzi)

Demikianlah, syarat-syarat atau cara supaya permohonan kita dikabulkan oleh Allah SWT, di samping itu juga masih banyak sumber dalil baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadist yang bisa kita jadikan sebagai rujukan untuk memperbaiki amalan kita sehari-hari, khususnya menyangkut masalah doa, serta sebagai khazanah keilmuan kita dalam upaya beribadah kepada-Nya.
Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar