7 Tips Memilih Buku Klasik untuk Koleksi dan Dijual Kembali

7 Tips Memilih Buku Klasik untuk Koleksi dan Dijual Kembali

Sebagai penggemar novel, bagi saya tidak ada yang lebih baik dari duduk di kursi yang empuk sambil membaca novel kesukaan, dan ditemani secangkir minuman hangat atau cemilan. Saya bisa duduk sampai berjam-jam hanya untuk membaca dan tersesat dalam dunia karya pengarang. Karena itu, buku yang tebalnya kurang dari 300 halaman bisa habis saya baca hanya dalam sekali duduk.

Buku favorit saya ialah novel klasik dengan genre petualangan, fantasi, misteri tapi bukan horor, dan romantis. Saya juga suka buku cerita klasik untuk anak-anak tapi tidak kekanakan. Itu lho, yang seperti Alice's Adventures in Wonderland karya Charles Lutwidge Dodgson alias Lewis Carroll dan The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis.
Tips memilih buku klasik untuk dikoleksi dan dijual
Tips memilih buku klasik untuk dikoleksi dan dijual


Ada satu fakta menarik yang tidak banyak orang tahu, yaitu bahwa buku bisa jadi barang investasi. Nilai investasi buku memang tidak setinggi nilai investasi emas, tapi berinvestasi buku merupakan hal yang menyenangkan bagi para penggemar buku.

Buku yang banyak dikoleksi dan memiliki nilai tinggi biasanya ialah buku edisi pertama karya penulis terkenal. Sangat jarang pengarang langsung terkenal saat menerbitkan buku pertama mereka, tapi setelah menerbitkan beberapa buku dan pengarang semakin terkenal, maka saat itulah orang-orang mulai berburu buku edisi pertama karya pengarang tersebut. Dan semakin banyak orang yang memburu, harganya akan semakin mahal. Apalagi jika bukunya diadaptasi ke dalam film, harga bukunya sudah bisa dipastikan akan semakin melambung.


Berikut adalah tips memilih buku klasik untuk dikoleksi atau dijual kembali:
1. Buku edisi pertama merupakan buku yang perlu dicari

Buku terkenal karya pengarang terkenal biasanya dicetak hingga berulang kali, dan tidak jarang dicetak dengan versi sampul berbeda setiap kali dicetak ulang. Buku lama edisi pertama biasanya ditandai dengan istilah: cetakan pertama, terbitan pertama, first edition, first published, atau first printing. Ciri lainnya: jika dalam bukunya terdapat laman copyright, akan ada baris nomor yang diawali oleh nomor “1” untuk menandakan edisi pertama.
2. Pilih genre science fiction (fiksi ilmiah), fantasi, dan fiksi misteri

Buku dengan genre science fiction (fiksi ilmiah), fantasi, dan fiksi misteri merupakan buku yang paling banyak dicari dibanding genre lainnya, karena itu nilainya lebih tinggi. Pengarang terkenal untuk buku genre misteri antara lain ialah Agatha Christie, Sir Arthur Conan Doyle, Edgar Allen Poe, dan Ellery Queen. Buku karya mereka sudah berumur puluhan tahun dan banyak diadaptasi ke dalam film dan serial. Mencari buku dengan genre-genre tersebut untuk dikoleksi memang tidak semudah mencari buku dengan genre yang lain, tapi nilai jual kembalinya yang relatif tinggi membuatnya layak untuk diusahakan.
3. Cari cetakan versi hardcover

Buku hardcover adalah buku yang jilidnya lebih tebal, keras, dan tidak mudah dilengkungkan. Buku yang dicetak dalam hardcover biasanya merupakan buku cetakan edisi khusus. Sementara buku paperback (disebut juga buku softcover), jilidnya lebih tipis dan mudah dilengkungkan. Buku yang dicetak dalam hardcover lebih mahal dibanding versi paperback karena biaya produksi buku hardcover lebih tinggi dibanding buku paperback, dan karena paperback merupakan versi cetakan ulang dari buku versi hardcover sehingga nilainya lebih rendah dibanding versi hardcover.
4. Buku yang dicetak dalam bahasa aslinya lebih baik daripada hasil terjemahan

Buku edisi pertama dalam bahasa asli tentu lebih tinggi dibanding buku edisi pertama hasil terjemahan. Karena itu, carilah buku edisi pertama yang dicetak dalam bahasa aslinya. Hal ini disarankan terutama untuk mereka yang sengaja mengoleksi buku untuk dijual kembali.
5. Cari buku edisi pertama di tempat yang tepat

Seperti apa jenis dan kualitas buku yang akan didapat, itu bergantung pada kemampuan dan ketelitian Anda dalam memilih. Buku berkualitas bagus tidak hanya bisa didapat di toko buku besar, tapi ada banyak alternatif bagus lain sebagai tempat untuk memperoleh buku berkualitas. Toko buku bekas, bahkan pasar loak pun bisa jadi menjual buku berkualitas bagus yang tentu dalam harga relatif murah. Pilihan lain ialah membeli buku dari orang pribadi, misal teman atau kenalan. Sebagai perhatian, kadang orang tidak tahu nilai sebenarnya dari sebuah buku. Kadang mereka tidak tahu bahwa buku yang dimilikinya merupakan buku yang sedang diburu oleh para kolektor dan nilainya sedang naik daun. Karena itu mereka menjual buku dengan harga rendah. Alternatif lain tentu saja ialah toko online. Tidak hanya di toko buku online besar, cari juga buku layak koleksi di toko jual beli barang seperti OLX dan Tokopedia, cari di forum buku, atau cari di grup penggemar buku di media sosial.

Menurut saya internet merupakan alternatif terbaik, karena internet menyediakan lebih banyak pilihan. Ada banyak orang, bahkan dari seluruh dunia, yang menjual buku baru dan buku bekas. Genrenya beragam, harganya juga bervariasi. Di internet saya bisa memilih buku dengan santai dan membandingkan harga dengan teliti. Buku klasik antik seharga ratusan juta rupiah juga ada. Buku seperti itu cocoknya dipajang di museum, atau paling tidak jadi koleksi perpustakaan besar kelas internasional. Walau begitu, kekurangan dari membeli online di internet ialah tidak bisa melihat langsung kondisi fisik buku. Karena itu, pastikan untuk hanya membeli buku dari penjual yang bisa dipercaya, penjual yang menampilkan deskripsi buku secara lengkap, dan menampilkan gambar buku yang dijual secara rinci. Dan pastikan pembayaran dilakukan melalui rekening bersama, agar dana kita aman, dengan jaminan uang kembali kalau barang tidak diterima.
6. Jangan lupa untuk menawar harga

Negosiasi harga di toko besar tentu tidak akan bisa, tapi kalau membeli di toko buku bekas, pasar loak, atau dari orang pribadi, selalu usahakan untuk melakukan negosiasi harga dengan penjual agar bisa mendapat buku dengan harga yang lebih murah. Tapi ingat: menawar harga merupakan hal yang biasa untuk mencapai kesepakatan harga saat jual beli, tapi jangan maksa. Kalau tidak sepakat juga, ya cari di tempat lain.
7. Buku karya pertama dari pengarang baru perlu menjadi perhatian

Nasib pengarang ditentukan oleh karya pertama mereka. Tidak semua seperti itu, tapi umumnya seperti itulah keadaannya. Banyak pengarang yang hanya menerbitkan satu karya, lalu berhenti dan menghilang. Dengan kata lain, mereka gagal. Tapi, ada beberapa pengarang baru yang perlu diperhatikan.

Pengarang baru harus membuktikan kemampuannya dalam mengarang, dan buku karya pertama mereka biasanya dicetak dalam jumlah kecil. Tapi jika buku pertama mereka mendapat ulasan yang baik dan laris terjual, maka penerbit akan secepatnya menawari pengarang untuk menerbitkan buku kedua dalam jumlah cetakan yang lebih banyak dan harga lebih tinggi. Dan saat itu juga harga buku karya pertama pengarang akan banyak dicari dan nilainya bertambah mahal. Karena itu, saat melihat buku karya pertama dari pengarang baru, baca dengan teliti ulasan yang tertera di sampul belakang buku, jika banyak pakar yang memberi ulasan baik, maka buku karya pertama tersebut layak untuk dikoleksi.

Bagaimana? Setelah membaca artikel di atas apakah Anda mulai tertarik untuk mengoleksi buku? Atau mungkin punya buku yang ingin dijual? Kalau Anda punya buku layak koleksi yang ingin dijual, cobalah untuk mempromosikannya secara online di forum buku atau grup buku di media sosial, barang kali ada kolektor buku yang tertarik untuk membeli dengan harga tinggi.
Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar