2 Tips Mendidik Anak ala Rhenald Kasali

2 Tips Mendidik Anak ala Rhenald Kasali

“Tak peduli seberapa jauh jalan salah yang anda lalui, putar arah sekarang juga !” Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

Hari ini siapa sih yang tidak mengenal sosok Prof. Rhenald Kasali, Ph. D. Pencetus istilah “driver” dan “passenger” dalam dunia pendidikan serta Penulis buku Self Driving itu, kini dijadikan trendsetter bagi orang tua dan guru yang menginginkan perubahan dalam mendidik anak-anak mereka. Guru Besar FE UI itu, juga salah satu tokoh yang berjuang keras melakukan perubahan pendidikan di Indonesia. Berbagai cara sudah Rhenald Kasali lakukan, salah satunya dengan cara mengusahakan bagaimana anak-anak Indonesia, dengan berbagai latar belakang ekonomi, bisa mendapatkan pendidikan berkualitas internasional. Salah satu bentuk nyata perjuangannya ialah Rumah Perubahan. Semacam instansi pendidikan nonformal yang didirikan sebagai wujud kepedulian terhadap anak-anak kurang mampu agar mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Nah, sebagai orang yang telah malang melintang menggeluti dunia sosial khususnya pendidikan. Sudah pasti Rhenald Kasali paham betul bagaimana mendidik anak, agar bisa mencapai cita-cita yang diinginkan. Oleh karena itu kali ini saya akan membagikan Tips Mendidik Anak bagi orang tua dan guru ala Rhenald Kasali.

[caption id="attachment_1316" align="aligncenter" width="480"]Cara mendidik anak Cara mendidik anak (Ilustrasi/youtube)[/caption]

1. Berikan Stimulus


Di zaman serba internet seperti sekarang ini seringkali kita dengar orang tua yang mengeluhkan perilaku anak yang lebih tertarik pada game dari pada belajar. Orang tua berasumsi bahwa kebiasaan bermain game berakibat buruk terhadap nilai pelajaran anak. Tanpa mempertanyakan kenapa anak lebih tertarik pada game ketimbang belajar. Bahkan, banyak juga diantara orang tua itu yang sampai hati mengantarkan anak mereka ke psikolog karena dianggap sudah ketagihan game.

Menurut Prof. Rhenald Kasali, dalam kasus anak yang ketagihan game seperti cerita di atas, penyebabnya bukanlah pada sisi si anak atapun gamenya, melainkan dunia belajar. Tertanam dalam benak anak belajar merupakan sesuatu yang membosankan. Bandingkan dengan dunia game, ketika baru memulai game saja, anak sudah mendapatkan sambutan yang luar biasa, “inilah pahlawan yang akan menyelamatkan dunia dari bahaya”, dengan suara yang ramai dan layar yang berwarna warni. Stimulus yang sangat berkesan, bukan ?.

Menurut teori belajar, renspon seorang anak tergantung seperti apa stimulus yang diberikan. Semakin baik stimulusnya maka akan semakin baik pula respon yang didapatkan.

Mari kita bandingkan stimulus yang diberikan dunia game dengan stimulus yang diberikan dalam dunia belajar pada ketertarikan anak. Selama ini jarang sekali anak mendapatkan sambutan yang mampu menarik minat mereka terhadap belajar seperti sambutan yang diberikan dunia game. Jangankan sambutan, anak justru sering mendapatkan kata-kata perintah ketika memasuki dunia belajar.

Maka menurut Rhenal Kasali, hal pertama yang harus dilakukan orang tua atau guru dalam mendidik anak-anak mereka agar bisa mencintai dunia belajar ialah memberikan sambutan yang mampu menggugah minat anak dalam belajar. Sambutan yang melebihi dengan apa yang diberikan dunia game, atau paling tidak seimbang.
Baca juga:

8 Tips sederhana untuk orang tua dalam mendidik anak

* 14 Tips mendidik anak

* 5 Tips menjadi guru berkualitas

* 4 Langkah mendidik anak agar selalu percaya diri

2. Perkaya Apresiasi


Hal kedua yang mesti dilakukan orang tua atau guru dalam mendidik anak menurut Rhenald Kasali ialah memperkaya Apresiasi. Seringkali kita jumpai orang tua yang memberikan instruksi satu arah atau bahkan tidak jelas dalam mendidik anak. Terbukti dengan banyaknya kasus orang tua yang menampilkan sikap berlebihan ketika mendapatkan laporan nilai yang jelek dari sang anak. Seperti mencaci maki, memarahi, mengurangi uang saku atau bahkan memukul. Padahal bagi sang anak, untuk melaporkan nilai yang jelek dibutuhkan keberanian yang luar biasa dan anakpun sadar bahwa mendapatkan nilai yang jelek ialah sebuah kesalahan.

Ketika anak mendapatkan nilai yang memuaskan, seratus misalnya, orang tua atau guru jarang sekali memberikan apresiasi kepada anak, apalagi sampai yang memuaskan. Mungkin ada beberapa orang tua yang memuji, namun sadarilah bahwa anak itu tidaklah sama dengan kucing yang merasa cukup dengan hanya diberi tulang ketika berhasil melakukan sesuatu. Anak-anak itu jeli, mana apresiasi yang tulus, mana yang tidak.

Sekali lagi kita bandingkan dunia belajar dengan dunia game. Anak-anak bisa sebegitunya menyukai game karena apresiasi yang memuaskan dari dunia game kepada anak. Setiap kali anak menyelesaikan tahapan level pada dunia game dengan benar, maka dunia game akan langsung memberikan apresiasi dari pada anak, “anda sungguh luar biasa, selamat anda masuk ke level selanjutnya, pertahankan prestasi anda, kamu adalah pahlawan sejati”, lengkap dengan kembang api dan suara yang bersemangat. Anakpun semakin antusias bermain game. Itulah yang dirasakan anak ketika berhasil dalam menyelsaikan misi dalam dunia game. Begitu apresiatif bukan?

Ketika gagal pun dunia game tidak akan memberikan cacian atau olok-olok pada anak. Justru yang muncul ialah anjuran untuk terus berusaha, “coba lagi, coba lagi dan coba lagi”. Anak-anak dilatih untuk selalu berusaha, tanpa memperdulikan seperti apa hasil yang didapatkan. Sangat berbeda bukan, bagaimana dunia nyata mengapresiasi anak dibandingkan dengan dunia game.

Itulah sepintas Tips Mendidik Anak ala Rhenald Kasali semoga bisa menginspirasi pembaca setia Igaligo.com. Bagi para orang tua, tirulah bagaimana game mengapresiasi anak-anak anda. Agar mereka nantinya bisa menggapai cita-cita setinggi-tinginya.
Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar