6 Tips Tepat Untuk Membangun Hubungan yang Menyenangkan dengan si
Remaja!

6 Tips Tepat Untuk Membangun Hubungan yang Menyenangkan dengan si Remaja!

Aduh, apa sih maunya anakku? Kenapa suka membangkang dan ikut-ikutan teman sih? Eh, sekarang malah sudah mulai suka sama teman lawan jenisnya, lagi!

[caption id="attachment_1239" align="aligncenter" width="635"]Tips membangun hubungan yang menyenangkan dengan remaja Tips membangun hubungan yang menyenangkan dengan remaja (Ilustrasi/wikimedia)[/caption]

Halo para Ayah dan Bunda! Wah, mulai gelisah dengan perkembangan sang anak yang sudah mulai suka ikut-ikutan teman, sering tidak nurut, dan suka sama lawan jenis ya? Jangan khawatir, itu normal kok! Sebuah buku berjudul Deteksi Dini Psikologi yang ditulis oleh mahasiswa Psikologi, Stella Olivia, menyebutkan bahwa remaja memiliki fasenya sendiri. Remaja punya ciri khas yang unik, yang membedakannya dengan usia-usia tahap perkembangan lainnya. Antara lain, remaja suka konformitas. Eh, apa itu konformitas? Dalam ilmu Psikologi, konformitas diartikan sebagai keinginan untuk bisa selalu sama dengan teman-teman sebayanya. Maksudnya? Begini nih, anak selalu ingin punya sepatu dengan model yang sama dengan teman-temannya. Anak selalu ingin bisa jajan di tempat yang sama dengan teman-temannya. Anak ingin punya ponsel dengan tipe yang sama dengan teman-temannya. Itulah yang dinamakan konformitas, salah satu fase yang biasanya dilewati oleh anak remaja. Selain itu? Selain itu, remaja mulai mengembangkan persahabatan dengan lawan jenis. Wah, Ayah dan Bunda harus siap nih. Maksud saya, harus siap menjadi orang tua yang menyenangkan, yang bisa mengontrol anak tanpa menggurui dan banyak ceramah. Caranya?

1. Jangan Kelihatan Paling Sok Tahu


Saya tahu, Ayah dan Bunda pasti cemas melihat banyak perubahan dalam diri anak. Dan saya lebih tahu, kalau ayah dan bunda sudah terlalu ingin banyak ceramah, berkata tentang pengalaman-pengalaman hidup, menggurui, dan lain-lain. Tapi, stop dulu! Jangan terlalu banyak melakukan hal-hal seperti itu ya, Ayah dan Bunda. Karena apa? Karena seorang remaja bakal muak dengan wejangan-wejangan dan kegiatan mendengarkan ceramah. Ayah dan Bunda memang tetap harus memberi tahu remaja tentang hal yang baik dan buruk kok, tapi tentu saja dengan format yang berbeda ketika memberi tahu mereka saat anak-anak masih kecil. Kalian perlu menjadi ‘teman’ dulu buat anak, bukan orang tua yang kelihatannya lebih tahu banyak hal. Posisikan diri Ayah dan Bunda sebagai teman yang menyenangkan, yang mau menyiapkan telinga dulu untuk mereka. Dengan begitu, kedekatan dengan sang remaja bakal terjalin dengan sangat baik. Kuncinya ialah kedekatan. Kalau hubungan kalian dekat, tentu Ayah dan Bunda tidak perlu khawatir remaja berperilaku menyimpang.

2. Mengerti Mereka


Ayah dan Bunda harus sadar kalau anak yang kita hadapi sekarang bukan lagi anak-anak yang bisa diatur dengan aturan-aturan yang ketat dan kalimat paksaan yang memuakkan. Remaja itu unik, semakin dipaksa dan dilarang, ia semakin ingin melakukannya. Benar kan? Kalau sudah begitu, apa dong yang bisa Ayah dan Bunda lakukan? Tidak perlu risau. Ayah dan Bunda hanya perlu konsisten. Maksudnya? Contohnya, saat remaja mulai meminta keluar malam seperti teman-temannya, Ayah dan Bunda tentu tidak bisa bersikap sangat kaku dengan langsung menolak permintaan tersebut dong? Ingat ya, dia sudah remaja dan dia unik. Cara yang paling tepat ioalah menerapkan aturan yang konsisten bagi kedua belah pihak. Ayah dan Bunda mengizinkan, namun tetap ada aturan yang mengikat. Oke, kamu boleh keluar malam, tapi dengan syarat hanya sampai jam sembilan saja dan harus diantar jemput oleh sopir pribadi. Misalnya begitu. Tapi aturan ini harus diterapkan dengan konsisten. Ketika anak melanggar—misalnya pulang lebih dari jam sembilan, Ayah dan Bunda harus menerapkan hukuman yang tegas, misalnya tidak boleh keluar lagi untuk tiga kali berturut-turut karena ia telah melanggar aturan yang telah disepakati. Oh ya, satu lagi. Soal hukuman ini, sejak awal harus dibicarakan dengan jelas. Ayah dan Bunda bisa kok menerapkan kebebasan untuk sang anak, dengan bertanya, “Kalau kamu melanggar aturan kita, menurutmu hukuman apa yang cocok untukmu?” Dengan begitu, anak merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan juga. Orang tua juga jadi tidak terlihat sangat otoriter kan?

3. Ini Untukmu!


Tidak dapat dipungkiri, kehadiran orang tua berpengaruh besar dalam perkembangan sang remaja. Maksudnya? Kan orang tua memang selalu tinggal serumah dengan mereka? Tidak hanya kehadiran fisik yang kelihatannya sangat dipaksakan ya, Ayah dan Bunda. Begini deh, sesibuk apapun Ayah dan Bunda, selalu usahakan datang ke pentas seni sang remaja. Seribet apapun pekerjaan Ayah dan Bunda, selalu upayakan bisa makan malam bersama sekeluarga demi terjalinnya hubungan yang harmonis. Tapi yang perlu diingat ialah kehadiran Ayah dan Bunda bukan hanya kehadiran fisik saja ya, namun juga kehadiran mental yang tidak terkesan hadir tapi buru-buru, atau yang lebih parah lagi, hadir sih hadir tapi kalau pikiran dan jiwa Ayah dan Bunda tidak di situ, itu sama artinya dengan kalian tidak hadir secara penuh untuk sang remaja. Menurut Stella Olivia, dalam bukunya yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, dia menyebutkan kalau kehadiran orang tua dan perhatian yang diberikan oleh remaja akan berdampak pada kepercayaan diri remaja. Jadi, kalau mereka merasa Ayah dan Bunda selalu memperhatikan dan mau datang pada acara-acara penting mereka, remaja akan lebih percaya diri terhadap hidupnya.

4. Mana Telinga Kalian?


Kalau semua orang mau memimpin, siapa dong yang akan dipimpin? Kalau semua orang mau berbicara, siapa dong yang akan mendengarkan? Nah, kalimat itu tepat sekali untuk menggambarkan hubungan dua arah antara orang tua dengan si remaja kan? Begini, Ayah dan Bunda harus sadar dulu kalau anak yang kalian hadapi sekarang sudah remaja dan bukan anak-anak lagi. Jadi, kalian harus mendidik mereka dengan format yang berbeda karena sekarang mereka sudah bertumbuh. Dulu, ketika mereka masih kecil, Ayah dan Bunda memang harus berdiri di depan mereka. Eh, apa maksudnya? Berdiri di depan mereka berarti menuntun mereka yang masih belum tahu banyak tentang kehidupan. Nah, setelah anak-anak bertumbuh menjadi remaja, sekarang saatnya Ayah dan Bunda mundur selangkah menjadi berdiri sejajar dengan mereka. Maksudnya, Ayah dan Bunda harus pintar-pintar memposisikan diri menjadi teman buat mereka. Menjadi teman itu identik dengan sharing kan? Nah, ketika anak-anak beranjak remaja, Ayah dan Bunda harus menyiapkan telinga super. Telinga super inilah yang nantinya akan membuat kalian tidak kesulitan untuk mengontrol remaja dengan format masa kini. Seperti yang saya katakan di awal, kontrol yang tepat untuk remaja dimulai dari kedekatan antara orang tua dan anak. Oke, kembali lagi ke posisi orang tua tadi, begitu anak-anak bertumbuh menjadi lebih dewasa, orang tua mundur selangkah lagi menjadi berdiri di belakang anak. Karena anak sudah dewasa, sudah bisa mengambil keputusan secara mandiri, telah mampu bertanggung jawab secara penuh terhadap diri mereka masing-masing, posisi orang tua yang tepat ialah berdiri di belakang anak sebagai pendukung saja.

Wah, keren juga ya jadi orang tua? Benar, jadi orang tua yang tepat selalu keren dan mengagumkan ketika mereka berhasil mengantar anak-anak kebanggaan mereka menjadi orang yang sukses dan berguna. Selamat menjadi orang tua yang menyenangkan buat si remaja!
Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar