7 Cara Yang Bisa Kamu Terapkan Ketika Mulai Memasuki Masa Skripsi

7 Cara Yang Bisa Kamu Terapkan Ketika Mulai Memasuki Masa Skripsi

Aduh. Kapan nih skripsi gue kelar? Pertanyaan seperti itu sudah kelewat sering mengambang dalam otak para mahasiswa tingkat akhir yang stres dengan skripsi dan segala tetek bengek penelitian yang menyertainya. Mulai dari perasaan muak sampai galau bertengger dan gak hilang-hilang dalam hati mereka. Gimana sih caranya biar skripsi cepat kelar dan kamu bisa segera wisuda? Beberapa cara berikut mungkin akan membantumu yang sedang galau. Yuk, merapat!

[caption id="attachment_1118" align="aligncenter" width="635"]Cara memasuki masa skripsi Cara memasuki masa skripsi (Ilustrasi/pixabay)[/caption]

1. Skripsi itu gak hanya soal intelektual


Janjian jam delapan, dosen datang jam dua. Jam dia kelambatan berapa menit sih?

Kapan skripsi gue di-ACC? Gila aja, revisi kok kayak apel doi sih, seminggu tiga kali, dan gak fix-fix pula!

Ngadepin dosen yang lagi bad mood lebih serem daripada ambil hati calon mertua lho. Sungguhan deh!

Tahu kan betapa ribetnya skripsi dan mengurus penelitian? Apalagi, dosen pembimbingmu itu bukan doimu yang selalu punya waktu buat kamu. Dia itu superrrr sibuk dengan banyak jadwal mengajar dan beberapa keperluan lain di luar. Sedangkan kamu itu cuma salah satu dari sekian banyak prioritasnya. Jadi, sabar. Kamu harus sabar menghadapi dosen pembimbingmu. Karena apa? Dia kuncinya. Dia satu-satunya orang yang punya wewenang ACC skripsimu atau tidak, kamu bisa maju sidang atau tidak, selain Tuhanmu. Ngenes kan ya? Jadi, sungguhan deh, kalau soal intelektual saja, skripsi tidak akan cepat kelar. Kamu harus punya mental baja untuk menghadapi dosen pembimbingmu!

2. Dosen pembimbing itu doi sementara!


Kamu menargetkan lulus dalam berapa semester? Lalu, skripsi akan kelar dalam berapa semester? Pertanyaan itu diyakini sukses membuat para mahasiswa tingkat akhir naik darah deh. Tapi, satu hal yang sering dilupakan ialah soal dosen pembimbing. Ingat kan ya, kalau beliau itu kunci ACC skripsi kita? Jadi, hal terbaik yang bisa kita lakukan ialah mengusahakan semaksimal mungkin skripsi itu sendiri sambil terus menjalin hubungan yang baik dengan dosen pembimbing. Ingat ya, hubungan yang hangat dengan dosen pembimbingmu akan memudahkanmu untuk tahu apa mau dan keinginan dosenmu terhadap skripsimu. Dengan modal itu, kamu bisa mengerjakan skripsi dengan lebih baik dan paham, sehingga kata ACC bukan lagi jadi barang langka. Eits, menjaga hubungan baik itu beda artinya dengan menyogok ya. Please deh, beberapa dosen malah tersinggung dengan tanda-tanda sogokan darimu. Menjalin hubungan yang menyenangkan itu lebih mengarah pada hubungan saling sapa dan memahami.

3. Corat-coret! Emangnya draft skripsi gue kertas bekas?


Jangan langsung galau begitu judulmu ditolak sekali. Baru sekali, cuy! Jangan tarik napas dalam-dalam kalau ide-idemu tidak disetujui. Jangan patah arang kalau kamu harus bolak-balik mengganti topik penelitianmu hanya karena dosenmu tidak ACC. Ingat ya, dosenmu itu lebih berpengalaman darimu. Beliau sudah tahu apa yang terbaik untuk mahasiswanya. Satu lagi, ketika kamu sudah mulai menjalankan penelitian, stop mendelikkan mata lebar-lebar begitu draf skripsimu dicoret-coret ya! Jangan langsung patah hati cuma gara-gara revisi coret-coret itu.

Ketika kamu sudah mengambil mata kuliah skripsi, di sini ketahanan mentalmu diuji. Kamu tidak bisa menjadi mahasiswa yang mudah down dan patah hati karena penolakan-penolakan kecil dari dosenmu. Kalau alasanmu terlalu kuat tentang topik penelitian sedangkan dosenmu punya pandangan yang berbeda, sepertinya kamu bisa meminta waktu untuk berdiskusi dengan beliau. Tapi, tetap saja, kamu tidak bisa menjadi mahasiswa yang baru saja mau melakukan penelitian, tapi sangat idealis. Kamu tahu kan, dosenmu jauh lebih berpengalaman ketimbang kamu. Jadi, dia lebih tahu banyak tentang penelitian dan keadaan lapangan yang sesungguhnya. Jangan sampai skripsimu terhambat karena kamu terlalu idealis padahal kamu tidak paham betul tentang kondisi lapangan. Intinya, jangan sampai putus kuliah di tengah jalan hanya karena menemui kendala ya. Itu konyol, karena orang tuamu sudah berkorban sedemikian banyak untuk kuliahmu selama beberapa tahun belakang. Ayo deh, tinggal selangkah lagi. Skripsi, aku akan menaklukanmu!

4. Pintar + Tekunnnnnnnn = WISUDA


Kenapa kata tekun harus ditekan sedemikian rupa? Karena pintar saja tidak cukup untuk menyelesaikan skripsimu. Kalau kamu hanya mengandalkan kepintaranmu saja tanpa sungguh-sungguh menyelesaikan skripsimu, sang penelitian tidak akan cepat kelar. Skripsi itu bukan hanya masalah menulis makalah sepuluh sampai lima belas lembar lho. Skripsi itu perpaduan yang menyebalkan antara cari teori sampai terjun ke lapangan. Kalau modal intelektual saja, mana bisa kamu berharap lulus cepat?

5. Kuncinya, fokus!


Selain tekun, kamu juga harus fokus pada penelitianmu. Jangan terlalu banyak menerima pekerjaan freelance yang menyibukanmu sehingga kamu tidak punya waktu untuk mengerjakan skripsi. Kebanyakan, orang yang tidak fokus pada skripsinya akan sulit menyelesaikan penelitiannya sendiri. Ayo deh, konsisten, kamu harus menetapkan waktumu untuk skripsi. Misalnya, galakkan sloganmu tiada hari tanpa menyentuh skripsi selain Sabtu dan Minggu dalam dirimu. Atau, kamu bisa berjanji pada dirimu sendiri untuk stay di depan laptop dan berjuang untuk skripsimu tiga jam setiap harinya. Kalau kamu konsisten dengan komitmenmu sendiri, yakin deh masa-masa skripsi bakal terasa cepat berlalu. Tahu-tahu, kamu sudah di bab penutup! Tapi, ingat ya, komitmen tanpa tindakan riil tidak akan mengubah apapun!

6. Ingat tujuan akhirmu


Apa yang membuat kebanyakan orang jadi produktif dan melakukan banyak hal secara totalitas dalam hidupnya? Salah satu jawabannya ialah tujuan akhir. Kamu tidak bisa menyangkal kalau tujuan akhir memang menjadi salah satu pemacu paling hebat agar seseorang mau melakukan perjuangan dalam hidupnya dan menuntaskan tugas-tugasnya. Ayo deh, coba ingat-ingat lagi tujuan akhirmu setelah kuliahmu selesai. Kamu ingin segera menikah? Atau kerja di perusahaan bidikanmu? Atau malah kamu sudah menyiapkan banyak hal untuk langsung berwirausaha setelah wisuda? Oke deh, apapun impianmu, tidak akan benar-benar terwujud kalau saja kamu tidak menyelesaikan skripsimu. Semua impianmu itu bakal tercapai dengan baik setelah kamu menyandang gelar sarjanamu. Tapi, setidaknya impian itu patut kamu pertahankan di dalam otakmu sebagai penyemangatmu. Setiap kali malas menyentuh skripsi, ingat impianmu bekerja di Astra. Setiap kali muak dengan revisi, ingat kalau calon mertuamu sudah menanti-nantikanmu.

7. Ingat perjuangan Enyak-Babe!


Sudah berapa kali orang tuamu menanyakan kabar skripsimu? Udah sampai muak kan ya dengarnya? Okelah, di luar semua pertanyaan itu, tanyakan kembali pada hatimu tentang perjuangan kedua orang tuamu. Mulai dari biaya kuliah sampai doa-doa yang tidak pernah terputus setiap malamnya. Semuanya itu demi mereka melihatmu memakai toga pada acara wisuda. Mereka sangat memimpikan anak kesayangannya menjadi seorang sarjana, lalu mampu hidup dengan mapan dan meraih semua impiannya setelah lulus dari perguruan tinggi. Jadi, masih tega menunda-nuda skripsimu hari ini?
Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar