7 Tips Sukses Menjadi Single Parent

7 Tips Sukses Menjadi Single Parent

[caption id="attachment_852" align="aligncenter" width="590"]Sukses menjadi single parent Sukses menjadi single parent (Ilustrasi/pixabay)[/caption]

Menjadi single parent atau orang tua tunggal belakangan ini mulai menjadi suatu gaya hidup masyarakat modern khususnya di negara-negara bagian seperti Amerika Serikat. Coba bayangkan, lebih dari 13 juta warga Amerika Serikat adalah single parent, di mana mayoritas dari mereka adalah para wanita.

Meskipun demikian, bagi masyarakat Indonesia, menjadi orang tua tunggal atau single parent masih merupakan hal yang menakutkan. Menjadi single parent tentunya bukanlah perkara mudah. Selain kesepian karena tidak ada lagi teman berbagi, seiya sekata, kita juga harus merangkap dua peran sekaligus, yaitu menjadi sosok seorang ibu maupun seorang ayah.

Bagi anak yang kehilangan salah satu orang tuanya, mereka cenderung sedih, bahkan depresi. Dunia mereka seolah berubah. Kasus perceraian biasanya dapat berdampak kepada psikologi anak. Seorang anak bahkan bisa melampiaskan kesedihannya dengan menggunakan nark*ba. Nah, hal ini adalah salah-satu hal yang paling ditakutkan oleh single parent selain juga pandangan masyarakat yang biasanya memandang rendah status single parent.

Siapa bilang semua anak korban perceraian terjerumus ke hal-hal yang negatif? Tidak Semua. Siapa bilang seorang single parent tidak bisa membiayai hidupnya dan bahkan mewujudkan impiannya. Banyak kok single parent yang sukses mengantarkan anak-anaknya mewujudkan cita-citanya.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menjadi single parent yang sukses?

7 Tips Sukses Menjadi Single Parent



  1. Bekerja dengan giat


Ketika kita menjadi seorang single parent, otomatis masalah keuangan menjadi tanggung jawab kita. Hal ini akan menjadi sulit bagi isteri yang belum pernah bekerja atau hanya mengandalkan suami ketika masih bersama. Tapi bukan tidak mungkin. Bagaimanapun kebutuhan hidup harus dipenuhi. Jadi temukanlah pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Kita bekerja bukan hanya untuk mengganjal perut tapi yang terpenting adalah masa depan anak-anak. Jadi berpandai-pandailah mengatur keuangan agar kebutuhan hidup sehari-hari tercukupi, masa depan anak pun terjamin.

2. Luangkan waktu untuk anak-anak


Demi dapat memenuhi segala kebutuhan hidup keluarga, kita terkadang bekerja tak kenal waktu dan tak kenal lelah. Sepulang bekerja kita langsung tertidur karena lelah. Usahakan hal ini tidak terjadi. Bekerja gila-gilaan tidak hanya membuat kita lelah saja, tetapi juga membuat kita kehilangan waktu-waktu berharga bersama anak-anak.

Penting untuk diingat, anak adalah hal yang harus diprioritaskan. Kalau orang tua terlalu sibuk bekerja, anak akan luput dari pengawasan. Jadi luangkanlah waktu bersama anak-anak. Pantau terus perkembangan mereka dengan seksama. Bahkan bila perlu aturlah skedul untuk menentukan mana waktu untuk bekerja dan kapan waktu untuk anak-anak. Mereka sudah kehilangan satu orang tuanya, jangan sampai mereka kehilangan kita juga karena kesibukan kita.

3. Teman berbagi


Masalah adalah salah satu bumbu hidup yang selalu ada dalam kehidupan. Ada-ada saja tiap harinya masalah yang harus kita hadapi, baik masalah dalam skala ringan sampai yang paling berat sekalipun. Bagi seorang single parent permasalahan yang sering datang adalah masalah anak-anak.

Tentu tak mudah membesarkan anak sendiri apalagi kita juga harus bekerja. Kadang ada-ada saja tingkah anak yang memusingkan orang tua. Jika biasanya kita bisa mendiskusikannya dengan pasangan kita, dengan keadaan single parent, maka masalah itu tertumpu hanya pada kita sendiri. Jangankan untuk menyelesaikannya, teman untuk membicarakannya saja tidak ada.

Hal ini bukanlah hal yang harus kita cemaskan. Berbagi bukan hanya terbatas kepada pasangan saja. Keluarga dan teman-teman terdekat bisa menjadi tempat buat berbagi dan berdiskusi. Agar permasalahan itu menumpuk di otak dan menyesakkan di dada, bagilah masalah tersebut. Hal yang kita butuhkan terkadang bukan hanya solusi, tapi teman berbagi.

4. Tunjukkan perhatian dan kasih sayang


Perceraian ataupun kematian yang menyebabkan hilangnya salah seorang orang tua, akan menjadi pukulan yang sangat hebat bagi seorang anak. Ia akan merasa kehilangan kasih sayang. Olah karena itu, sebagai orang tua tunggal kita harus lebih menunjukkan rasa sayang dan perhatian kepada anak. Anak harus tahu bahwa walaupun sekarang tinggal 1 orang tua bukan berarti orang tua tidak menyayanginya.

Anak-anak korban perceraian ataupun kematian salah satu orang tuanya biasanya takut perhatian orang tuanya terbagi karena harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal itu membuat mereka mencari pelampiasan di luar rumah. Jangan biarkan itu terjadi. Tunjukkan kepada mereka bahwa dia adalah prioritas kita di atas segalanya. Katakan padanya tujuan kita bekerja dan yakinkan dia bahwa kita tidak akan pernah mengabaikannya.

5. Dukung impian anak-anak dan usahakan itu


Bagi anak-anak, mempunyai cita-cita yang tinggi adalah hal yang membanggakan. Bagi sebagian orang tua, cita-cita anak yang terlalu tinggi membuat mereka takut, takut tak mampu memenuhinya. Apalagi bagi seorang single parent. Menyadari mencari nafkah seorang diri, terkadang kita pesimis. Jika kepesimisan itu terlihat atau bahkan kita utarakan secara terang-terangan terhadap anak, akan membuat anak patah semangat.

Jangan biarkan hal itu terjadi. Dukunglah apapun yang anak-anak kita inginkan selagi itu positif. Hal itu akan membuat mereka lebih semangat. Mereka tetap bisa mengusahakan mimpi mereka meskipun dengan keluarga yang tak lengkap lagi. Jangan pernah berhenti memberikan dukungan apalagi membuat mereka pesimis.

6. Bangun sikap positif


Kita semua tahu betapa beratnya menjadi seorang single parent. Masalah pandangan masyarakat, kesepian, stress, kelelahan bahkan masalah ekonomi. Hal itu wajar-wajar saja, namun jangan pernah memperlihatkannya kepada anak-anak. Jangan pernah mengeluhkan keadaan yang memburuk di depan anak-anak karena hal itu akan membuat mereka lebih tertekan.

Jika kita sedang berkumpul di rumah bersama anak-anak, manfaatkan hal tersebut dengan berbahagia bersama mereka. Kita bisa menanyakan perkembangan sekolahnya, membicarakan cita-citanya atau masalah lainnya. Tunjukkan kepada mereka meskipun keluarga kita tidak lengkap, tapi kita masih punya kesempatan bahagia yang sama dengan keluarga yang lainnya. Bangun keoptimisan pada jiwa anak.

7. Akur dengan mantan pasangan


Perceraian bukan berarti putusnya hubungan sama sekali. Kita masih bisa saling akur dengan mantan pasangan terutama dalam mendidik anak. Bagaimanapun anak berhak atas kasih sayang kedua orang tuanya. Jangan halangi anak untuk bertemu ayahnya.

Kita bisa memiliki mantan suami atau mantan istri, tapi tidak ada yang namanya mantan ayah atau ibu. Menjaga hubungan baik dengan mantan pasangan akan membuat anak sadar, kalau perceraian bukanlah hal yang selalu menyakitkan tapi mungkin adalah salah satu jalan terbaik agar orang tua merasa bahagia.

Hal yang lebih penting lagi, jika kita tetap akur dengan mantan pasangan, maka kita bisa saling membahu dalam membesarkan anak meskipun sudah tidak tinggal dalam satu atap. Tidak perlu merasa gengsi ataupun malu mendapat bantuan biaya untuk anak-anak dari mantan pasangan karena hal itu akan sangat bermanfaat untuk anak kita.

Nah, semoga berhasil menjadi single parent.
Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar